Kasi Perlindungan Perempuan dan Data Kekerasan Perempuan, Lola Vestinora, SH

CURUPEKSPRESS.COM, REJANG LEBONG – Sepanjang tahun 2021 sejak Januari hingga Oktober, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) Kabupaten Rejang Lebong mencatat hanya 4 kasus kekerasan yang terjadi pada kaum hawa atau perempuan.

Demikian disampaikan Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, Zulfan Effendi, SE MM melalui Kasi Perlindungan Perempuan dan Data Kekerasan Perempuan, Lola Vestinora, SH pada saat disambangi wartawan di ruang kerjanya, Kamis (25/11) kemarin.
“Ini berdasarkan data di kita DP3APPKB, hanya ada 4 kasus yang melapor dan sudah kita tangani,” sampainya.

Lola mengatakan, tidak semua kasus kekerasan pada perempuan yang melakukan pelaporan ke DP3APPKB. Ada sebagian orang yang lebih memilih untuk melaporkan hal itu ke PPA Polres Rejang Lebong atau menyelesaikan permasalahan secara mandiri.
“Jadi memang tidak semua setiap kali ada kasus itu melapor ke DP3APPKB, dan lebih lengkapnya itu di PPA Polres. Terus juga orang yang berkasus ini tidak jarang juga menyelesaikan masalahnya sendiri secara kekeluargaan,” katanya.

Jika dibandingkan dengan tahun 2020 lalu, disana terjadi penurunan kasus dimana tahun lalu DP3APPKB berhasil merekap sebanyak 10 kasus kekerasan pada perempuan di Kabupaten Rejang Lebong.
“Bisa dikatakan menurun tapi saat ini masih tersisa kurang lebih satu bulan lebih. Artinya tidak menutup kemungkinan ada penambahan di kemudian hari, meskipun itu tidak kita harapkan,” ucapnya.

Adapun permasalahan yang kerap terjadi umumnya masalah KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga), kemudian perkara perselingkuhan dalam rumah tangga.
“Malah terkadang permasalahannya itu sepele seperti misalnya pasangan muda yang baru menikah, si istri tidak pernah membuatkan sarapan pagi untuk suaminya. Akhirnya si suami marah kemudian terjadilah pertengkaran. Kalau sudah seperti itu si istri melapor dan kita memanggil kedua belah pihak untuk dilakukan mediasi. Dalam hal ini tidak ada metode khusus, hanya saja masih menggunakan sistem kekeluargaan dengan memberikan pemahaman dari hati ke hati,” terangnya.

Adapun kendala yang sering terjadi ketika melakukan mediasi adalah mengontrol emosi yang bersangkutan (klien), selain itu juga pada saat berupaya memanggil dengan cara menyurati salah satu pihak tidak ingin datang. (CE9)

Ingin Berlangganan Koran? Hubungi Whatsapp +628 2178 6396 51

IKUTI JUGA AKUN MEDSOS CE DIBAWAH INI: